Untuk memelihara status gizi yang baik diperlukan pedoman diet Jika target populasinya adalah masyarakat, pedoman tersebut merupakan pedoman diet umum. Biasanya pedoman diet umum dibicarakan dan ditetapkan bersama Widyakarya Pangan dan Gizi untuk kemudian dipbulikasikan oleh lembaga yang meuliki otoritas, departemen kesehatan, perkumpulan profesi dan pakar gizi atau diet, lembaga pendidikan gizi dan sebagainya. Pedoman diet ini bersifat umum karena digunakan pada masyarakat luas yang dianggap sehat dan tidak membutuhkan diet khusus. Pedoman diet yang akan digunakan dirumah sakit bersifat khusus dan individual karena memperhitungkan kebutuhan setiap pasien menurut usia, hasil pengukuran antropometrik, status gizi, diagnosis penyakit serta pengobatan, dan keadaan khusus seperti kehamilan, menyusui serta tubuh kembang.
Kadang-kadang intervensi medic seperti pembedahan dan pengobatan turut mempengaruhi pedoman diet yang akan diterapkan pada seorang pasien. Karena ilmu kedokteran dan keperawatan mewajibkan standar pelayanan berbasis evidens (bukti), seyogyanya pedoman diet juga dibuat berdasarkan pada bukti ilmiah yang terbaik dan mutakhir sekalipun penelitian terhadap intervensi gizi dan diet dikalangan pasien-pasien rumah sakit jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian terhadap obat atau tindakan medis lainnya. Evidens merupakan bukti ilmiah yang menyatakan kebenaran sebuah pengkajian atas tindakan medic tertentu termasuk terapi gizi dan diet karena didukung oleh hasil-hasil penelitian yang mutakhir dan terbaik. Dengan demikian, pedoman diet rumah sakit bukan hanya dibuat menggunakan pedoman yang diterbitkan oleh departemen kesehatan atau perkumpulan profesi dietisien tetapi juga harus berdasarkan hasil-hasil penelitian yang terbaik dan mutakhir.
Continue reading →